Failure Mode and Effect Analysis VS Root Cause Analysis, kalo kamu team yang mana?

Dalam proses pengelolaan bisnis, terdapat beragam dinamika yang berkaitan erat dengan ukuran efektivitas dan efisiensi. Keduanya diharapkan dapat bergerak secara optimal sebagai bentuk ukuran keberhasilan sebuah perusahaan dalam mengelola proses bisnisnya. Secara konsep besar, tujuan tersebut populer dalam metode pendekatan Total Quality Management, pada pendekatan ini perusahaan dituntut mampu mengelola dan terus memperbarui Bisnis Proses As-Is yang sedang diterapkan.

Proses yang excellence menjadi sebuah keharusan bagi perusahaan dalam menciptakan nilai suatu produk beserta added valueproduk tersebut bagi target market. Dalam metode Total Quality Management, ada beberapa tools yang dapat digunakan sebagai elemen dalam mengidentifikasi peluang dan ancaman yang mungkin akan muncul pada bagian-bagian sistem dan fungsional perusahaan. Elemen tersebut diataranya adalah Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), Customer Requirements, Process and Supplier Requirements, dan beberapa elemen lainnya.

Kali ini kita bahas elemen FMEA. Konsep Manajemen Risiko sudah banyak dianut oleh para pelaku bidang industri, namun bagaimana sebuah pendekatan yang lebih applicable dengan penjabaran design system, corrective actions dari penyebab suatu kegagalan, mengidentifikasi component yang harus di eliminasi dan mana yang terus digunakan, FMEA memberikan tinjauan yang luas dari sudut pandang yang mendetail. Sehingga proses investigasi dari sebuah kegagalan-penyebab-potensi dapat langsung di hubungkan dengan design rencana perbaikan yang berkelanjutan.

FMEA harus di aplikasikan mulai dari proses yang paling mendasar pada sistem dan sub sistem, bukan langsung kepada komponen hardware. Pada tahap mendasar ini, kita bicara pada level pendokumentasian, karena sistem dan subsistem memerlukan teknik identifikasi dan investigasi. Baru kemudian setelahnya kita mengidentifikasi tingkatan selanjutanya dalam FMEA yaitu unsur current control, klasifikasi karakter kegagalan, hardware redundancy, indikator konsumen, dan lainnya.

Baca juga :

Dalam proses identifikasi potensi penyebab, diperlukan sebuah teknik yang juga sama pentingnya dan juga sudah familiar digunakan yaitu Root Cause Analysis. Root Cause Analysis adalah perangkat yang juga dapat menunjang proses analisis suatu potensi kegagalan sebuah sistem. Dengan Fishbone Diagram, beberapa faktor yang berinteraksi pada suatu proses dapat di identifikasi potensi penyebab kegagalan atau disorder. Kelebihan dari perangkat Root Cause Analysis adalah kejelasan sudut pandang dalam mengambil langkah perbaikan dari suatu masalah, menjangkau permasalahan yang sangat spesifik dari suatu proses yang juga spesifik.

Mengapa Root Cause Analysis begitu menarik? Karena pendekatan yang di bangun melalui sebuah struktur dari Fishbone Diagram dapat membantu suatu tim berfikir secara sistematis. Dengan pendekatan struktur Fishbone juga memungkinkan setiap bagian dari suatu tim dapat menuangkan hasil identifikasi dan ilmu praktikal yang sangat sesuai dengan permasalahan yang ada, pada proses ini memungkinkan tiap-tiap bagian dari tim menyajikan data-data yang terkait. Dengan begitu, setiap tim yang terlibat dapat melihat dari sudut pandang keseluruhan organisasinya.

Dari kedua sudut pandang tools diatas kita dapat memahami dua metode pendekatan yang mungkin dapat digunakan dalam menunjang aktivitas bisnis, karena sejatinya sebuah proses bisnis adalah sesuatu yang terus bergeser dan memerlukan penyesuaian dengan faktor-faktor dinamika eksternal dan internal.

So, kalo PQers lebih memilih metode yang mana? Atau sudah pernah menjalankan keduanya? Pernah menjadi bagian dari tim project management untuk perbaikan dan peningkatan kinerja perusahaan? Yuk share pengalaman kalian !

Source : www.ipqi.org