Neuro Communication


Makna komunikasi adalah respon yang didapat

Kalimat ini terdengar sangat sederhana, terlihat sangat mudah meskipun demikian kekuatan makna dibaliknya terasa sangat kuat, bahkan mampu mengubah mindset kita dalam berkomunikasi, kebanyakan orang saat berkomunikasi bila tidak mendapatkan respon seperti yang diharapkan biasanya tanpa sadar malah menyalahkan orang lain, bahkan memberi label negatif terhadap orang lain seperti pembangkang, lemot (Lemah Otak) atau ungkapan lain yng merefleksikan  kekecewaan sang komunikator, apakah hal ini benar? Mungkin saja ya benar, ibaratnya menjual sebuah barang kepada seseorang yang tidak mempunyai daya beli. namun bagaimana bila kita berpikir dari perspektif lain, alih-alih menyalahkan orang lain bagaimana kalau kita mulai berpikir.

Tidak ada pendengar yang resisten yang ada adalah komunikator yang kurang fleksibel

bagaimana kalau kita mulai berpikir untuk menggunakan cara yang berbeda untuk mendapat hasil yang berbeda?

“Semua manusia tidak bisa tidak berkomunikasi” bahkan diam sekalipun ada makna komunikasi, artinya pasti semua orang bisa berkomunikasi, pendengar atau siapapun orangnya pasti bisa diajak untuk berkomunikasi, namun bila yang terjadi komunikator SdaFtidak mendapat respon  seperti yang diinginkan maka ubah cara pendekatan komunikasinya, agar pesan dapat didengar dan sekaligus diterima  oleh sipendengar, terlebih lagi dalam peran sebagai leader maka aspek komunikasi ini menjadi sangat penting bukankah yang sering terjadi adalah pesan dimengerti namun hatinya tidak menerima, istilahnya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, yang disampaikan A yang didapat respon B, Neuro Communication skill  adalah salah satu cara berkomunikasi untuk mendapatkan respon seperti yang diinginkan.

Manusia berhubungan dengan dunia  luar melalui panca indra: melihat, mendengar dan merasakan, sehingga setelah kurun waktu tertentu terbentuklah sebuah preferensi atau kecenderungan dalam memproses informasi, ada yang lebih cenderung dengan melihat atau Visual, ada yang dengan mendengar atau Auditory dan ada yang dengan merasakan atau melakukan, biasa disebut Kinestetik, anggaplah ini sebagai pintu masuk dalam komunikasi, apa jadinya bila tidak tepat menggunakan pintu masuk ini, ambil contoh seseorang dengan preferensi Visual namun komunikator masuk melalui pintu Auditori, tentu akan lebih efektif bila komunikator menggunakan pintu masuk yang sesuai dengan preferensi pendengar.

Bagaimana mengetahui pintu masuk seseorang dalam memproses informasi, bagaimana bila situasinya classical atau public speaking? Inilah salah satu tantangan tahap awal dalam komunikasi, selain itu dasar komunikasi yang lain yang perlu diketahui adalah faktor trust, bagaimana sebagai komunikator dalam waktu singkat dapat diterima oleh pendengarnya? Mengambil prinsip “Body and Mind is one system” kita bisa mempelajari teknik Pacing-leading untuk me mirror secara elegan, bisa dari sikap tubuhnya, bisa dari gaya bahasa, bisa dari budaya, kesukaan, ketertarikan, bisa dari manapun, bagaimana bisa melakukan komunikasi dengan efektif bila diterima saja tidak, menarik bukan?

ADEraWRQAwrMasih banyak teknik lain dalam Neuro Communication yang perlu dipelajari, bagaimana melakukan komunikasi yang persuasif? Penelitian Mehrabian menunjukan bahwa kekuatan kata-kata hanya kurang dari 10 % selebihnya adalah bahasa non verbal, sehingga efek kongruensi dalam berkomunikasi menjadi sangat penting, sebagai contoh seseorang mengucapkan kata “mari kita semangat”, namun bahasa tubuhnya, intonasi, gesture, mimic muka tidak mencerminkan kata –kata yang dipakai inilah contoh tidak kongruen, dan ini bertentangan dengan prinsip “Communicator is the message it self”.

asfFQFRFFRBeberapa contoh diatas barulah mengupas sedikit persoalan dalam komunikasi seperti pintu masuk, masih banyak lagi hal lain yang bisa dipelajari untuk membuat seorang komunikator menjadi lebih fleksibel sehingga mampu berkomunikasi dengan siapapun dalam situasi apapun,   bagaimana cara pesan itu dikemas, dengan cara bagaimana pesan itu disampaikan dan dengan cara bagaimana isi pesan dapat diterima secara rasional dan emosional, Aristoteles seorang filsuf Yunani yang sangat terkenal menggunakan Triangle Principle dalam melakukan komunikasi yang persuasif, prinsip itu adalah: Ethos, Logos dan Pathos, yang artinya seorang komunikator harus mampu membangun Kredibilitas, Logis artinya kekuatan pesan dapat dicerna secara Rasional dan Pathos kekuatan pesan yang mampu menggerakan secara emosional, prinsip ini digabungkan dengan Six Principles of influence dari Prof. Robert Cialdini dan diperkaya dengan pendekatan NLP (Neuro Linguistic Programming) jadilah sebuah teknologi NEURO COMMUNICATION. Sehingga “Makna komunikasi adalah respond yang didapat” benar-benar dapat terwujud dan ampuh digunakan pada berbagai konteks baik itu personal, sosial maupun profesional.

Objective Program :

untuk membuat seorang komunikator menjadi lebih fleksibel sehingga mampu berkomunikasi dengan siapapun dalam situasi apapun, bagaimana isi pesan dapat diterima secara rasional dan emosional,   agar seorang komunikator harus mampu membangun Kredibilitas dan kekuatan pesan dapat dicerna secara Rasional serta kekuatan pesan yang mampu menggarakan secara emosional dengan pengabungan Six Principles of influence dan diperkaya dengan pendekatan NLP (Neuro Linguistic Programming)

Durasi Training :

2-6 Days, depend on program selection, such as initial assessment, progress monitoring and impact review