Business Continuity Plan/Disaster Recovery Plan Workshop-Badan Pusat Statistik (BPS)

Sudah kita sadari bersama-sama bahwa kondisi lingkungan tidak bisa dijamin 100% dalam keadaan normal dan kondusif.  Ada kalanya terjadi rintangan-rintangan di luar kendali kita seperti bencana alam, terorisme sampai dengan kegagalan infrastruktur yang berisfat masif. Untuk itu sudah saatnya organisasi/perusahaan yang terutama mengelola obyek vital/kritis memiliki semacam “pedoman opersional saat terjadi kondisi di luar normal” yang saat ini dikenal dengan Business Contunity Plan (BCP) dengan pembangunan dan pengelolaannya disebut dengan Business Continuity Management System (BCMS).

Saat ini sudah banyak organisasi yang memiliki BCMS secara lengkap, atau secara parsial yang biasanya berupa Business Continuity Plan (BCP), Disaster Recovery Plan (DRP) dan/atau Emergency Response Plan (ERP) namun dirasa implementasinya belum efektif.  Hal ini diketahui terutama dari hasil evaluasi pelaksanaannya pada saat drill/simulasi maupun eksekusi-nya pada kondisi di luar normal yang pernah terjadi.  Apabila hal ini terjadi, harus diadakan evaluasi secara menyeluruh sehingga dapat ditentukan tindakan perbaikannya. Salah satu bahan evaluasi yang cukup obyektif adalah hasil audit. Permasalahannya adalah apabila audit tidak dilakukan secara sistematis dan terorganisasir, maka hasilnya akan bias dan dapat menyebabkan tidak akurasinya tindakan perbaikan yang dilakukan sehingga hal ini berpotensi untuk menambah “frustrasi” manajemen perusahaan.

Data center (DC) adalah fasilitas utama pemrosesan data perusahaan untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan secara berkesinambungan

  • Disaster Recovery Center (DRC) adalah fasilitas pengganti pada saat data center mengalami gangguan atau tidak berfungsi untuk menjaga kelangsungan kegiatan usaha
  • Disaster Recovery Plan (DRP) adalah kebijakan, prosedur dan DRC yang dikembangkan untuk memastikan kelangsungan operasional perusahaan apabila terjadi gangguan terhadap operasional
  • Contingency Plan (CP) adalah prosedur manual yang disiapkan untuk memastikan kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan apabila data center data recovery center tidakberfungsi

Business Continuity Plan merupakan kebijakan dan prosedur yang memuat rangkaian kegiatan yang terencana dan terkoordinir mengenai langka-langkah pengurangan risiko, penanganan dampak gangguan atau bencana dan proses pemilihan agar kegiatan operasional perusahaan dan pelayanan kepada customer tetap dapat berjalan.

Business Continuity Management (BCM) merupakan proses pengelolaan yang mengidentifikasikan ancaman potensial atas suatu organisasi dan dampaknya terhadap operasional bisnis untuk membangun kekuatan organisasi dalam melakukan tindakan yang efektif untuk menjaga kepentingan stakeholder, reputasi dan kegiatan perusahaan.

BCM bukan hanya sekedar penulisan rencana atau prosedir jika terjadi bencana pada perusahaan. BCM harus menjadi komitmen dari top management dan diadpso dalam budaya organisasi, yang diyakini akan mampu memberikan keuntungan (ROI) dan meingkatkan reputasi bagi perusahaan. Maksud dan tujuan BCM adalah :

  • Meminimasi interupsi keberlangsungan perusahaan pada level yang dapat diterima
  • Mengidentifikasi area dengan potensi high impact melalui BIA (Business Impact Analysis)
  • Mengimplementasikan startegi BCM untuk menjad keberlangsungan bisnis dan mitigas risiko

BCM akan menjawab tentang keberlangsungan bisnis bagi perusahaan, seperti :

  • Kejadian/bencana/gangguan apa yang dapat mengancam perusahaan, Berapa besar probabilitasnya dan Apa saja dampaknya
  • Berapa besar dampak yang masih bisa ditanggung perusahaan
  • Apa yang dapat dimitigasikan
  • Bagaimana langkah recovery bisnis jika risiko benar-benar terjadi
  • Apa saja yang harus disiapkan atau disediakan
  • Seberapa besar resource yang harus disediakan

Disaster Recovery Planning harus menangani tiga bidang, yaitu:

  • Prevention (pra-bencana): Pra-perencanaan diperlukan (seperti menggunakan server mirror, memelihara situs hot sites, pelatihan tenaga pemulihan bencana) untuk meminimalkan dampak keseluruhan bencana pada sistem dan sumber daya. Pra-perencanaan ini juga memaksimalkan kemampuan sebuah organisasi untuk pulih dari bencana.
  • Continuity (saat bencana): Proses pemeliharaan inti, mission-critical sistem dan sumber daya “kerangka” (aset minimal yang dibutuhkan untuk menjaga sebuah organisasi dalam status operasional) dan/atau menginisiasi hot sites sekunder selama bencana. Langkah-langkah continuity menjaga sistem dan sumber daya perusahaan.
  • Recovery (pasca bencana): Langkah-langkah yang diperlukan untuk pemulihan dari semua sistem dan sumber daya untuk menjadi status operasional normal. Organisasi dapat mengurangi waktu pemulihan dengan berlangganan ke quick-ship programs (penyedia layanan pihak ketiga yang dapat memberikan pra-konfigurasi penggantian sistem untuk setiap lokasi dalam jangka waktu yang tetap) atau dapat juga disebut dengan vendor.

Disaster Recovery Planning (DRP) sangat penting bagi perusahaan agar operasional perusahaan dapat tetap berjalan meskipun terjadi bencana. Apabila operasional perusahaan terhambat, maka perusahaan pun akan mengalami kerugian.

Setiap perusahaan berusaha untuk menjaga asetnya dari kejadian bencana yang disebabkan oleh alam maupun bencana yang disebabkan oleh manusia yang berdampak pada terhamabatnya bisnis perusahaan. Agar bisnis tetap berjalan perusahaan membutuhkan strategi-strategi BCP/DRP. Berdasarkan hal tersebut Badan Pusat Statistik telah melakukan Workshop Business Continuity Planning/Disaster Recovery Planning pada tanggal 27 Februari-10 Maret  2017. Bapak Andrianto Moeljono, Konsultan Senior dari Proxsis IT mendampingi Workshop Business Continuity Planning/Disaster Recovery Planning di Badan Pusat Statistik Bandung. Workshop dibuka oleh Bapak Agung Gumilar Triyanto SST, M.Si. Kepala Subdirektorat Jaringan Komunikasi – Badan Pusat Statisik.

 Para peserta workshop berdiskusi dengan trainer Bapak Andrianto Moeljono

No comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: