Founder Proxsis Group Rudi Maulana Berikan Tips Mengembangkan Corporate Entrepreneurship

BANDUNG – Founder Proxsis Group, Rudi Maulana, diundang hadir di kampus SBM ITB Bandung sebagai guest speaker. Dia menyampaikan topik terkait “Corporate Entrepreneurship in Practice” di hadapan mahasiswa MBA di kampus tersebut.

Rudi juga memberikan tips bagaimana agar para mahasiswa tingkat lanjut di bidang bisnis ini mampu menjadi seorang professional atau entrepreneur yang memiliki pengetahuan (knowledge), kompentensi, serta nilai (value) entrepreneurship.

Founder Proxsis ini membeberkan beberapa tips entrepreneurship bagi calon professional yang mengelola perusahaan maupun calon pengusaha yang akan membangun usahanya.

“Fokus saya untuk berbagi pengalaman agar memotivasi para entrepreneur dan professional dengan langkah-langkah untuk melatih; knowledge, kompetensi dan value entrepreneurship bagi karyawan korporasi,” jelas Rudi di Kampus Institut Teknologi Bandung(ITB), Jl. Gelap Nyawang, Kota Bandung, Jumat(5/4).

Kepada peserta kuliah umum, ia memperkenalkan cara Proxsis melakukan pendekatan entrepreneurship untuk membuka kesempatan karyawannya dalam meniti karier dan menjadi Business Owner (pemegang saham) di bisnis unit yang dijalankan.

Ia pun membagikan secara detail beberapa langkah yang dibutuhkan agar bisnis bisa sukses di zaman sekarang. Hal pertama yang disampaikannya adalah Entrepreneurship dibutuhkan oleh organisasi menghadapi VUCA (Volatility, Uncertainity, Complexity, Ambiguity).

“Sehingga walaupun bergejolak dan banyak perubahan, masih mampu melihat opportunity dengan baik,” jelas Rudi.

Hal kedua, Rudi menjelaskan Entrepreneurship adalah Context yang dibutuhkan bisnis untuk berinovasi dan berkembang (growing). Maka entrepreneur harus belajar new practices bukan best practices.

Selanjutnya, Rudi menjabarkan bagaimana Proxsis, mengubah cara pandang terhadap Entrepreneurship. Yakni, dari sebatas kompetensi, menjadi pusat dari semua elemen seperti; Purposes, Business model, Strategy, Value, System, Talent management.

“Hal ini bisa menjadi lahan subur untuk melahirkan entrepreneur. Bukan hanya untuk mengajarkan entrepreneurship namun juga sebagai wadah bagi mereka membangun bisnisnya sebagai entrepreneur.

Terakhir disampaikan juga bahwa semua entrepreneur butuh coach. Sebab, juara olimpiade pasti butuh coach. Walaupun seorang coach bukan mantan juara olimpiade,” tandas Rudi.(*)

No comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: