Jurus Melawan Triple Strike Ekonomi

“Triple Strike” Menghantam Dunia Usaha, Proxsis & Co Pilih Melawan dengan AI

JAKARTA — Rudi Maulana tidak sedang berbasa-basi ketika menggambarkan nasib para pelaku usaha hari ini. Di hadapan para pendiri, pemilik bisnis, dan direktur dari tujuh holding yang berkumpul di Jakarta, Rabu (15/7/2026), Founder Proxsis Group itu memilih istilah yang jarang terdengar di forum korporasi, ‘babak belur bertubi-tubi’.

“Kalau melihat kondisi klien-klien kami, memang tantangannya cukup berat. Mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga tekanan ekonomi global. Bisa dibilang bukan lagi double strike, tetapi sudah triple strike,” kata Rudi.

Tiga pukulan beruntun itu diperkirakan masih akan berlanjut hingga penghujung tahun. Pelemahan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga tingginya biaya operasional dinilai masih membayangi kinerja perusahaan sepanjang 2026. 

Bagi Rudi, situasi sulit justru menjadi momentum bagi korporasi untuk berbenah mempercepat adaptasi melalui inovasi, efisiensi operasional, serta pemanfaatan teknologi digital.

“Outlook sampai akhir tahun masih berat. Tetapi justru ini menjadi peluang bagi perusahaan untuk menyiapkan inovasi sehingga ketika kondisi membaik pada 2027 mereka sudah lebih siap,” katanya.

Keyakinan itulah yang mendasari langkah Proxsis & Co meluncurkan AI-Preneurship Ecosystem, inisiatif yang mengintegrasikan budaya kewirausahaan, sinergi antarbisnis, dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memacu pertumbuhan berkelanjutan sekaligus mencetak wirausahawan baru yang berdampak luas bagi masyarakat. 

Komitmen itu ditegaskan dalam forum Kick Off RUPS 2026 Proxsis & Co bertema Building Entrepreneur Ecosystem for Sustainable Growth forum yang berbeda dari rapat umum pemegang saham pada umumnya karena berfokus pada penyelarasan pola pikir dan penguatan kolaborasi, bukan sekadar angka dan laporan.

Proxsis saat ini banyak mendampingi klien dalam melakukan efisiensi biaya, menyusun ulang strategi bisnis, memperkuat pemasaran, hingga mengimplementasikan AI ke dalam proses operasional perusahaan.

Pilihan bertaruh pada kecerdasan buatan bukan tanpa alasan. 

Tren adopsi AI di Tanah Air tengah melaju kencang. Data PwC per Februari 2026 mencatat 69 persen masyarakat Indonesia pernah menggunakan AI, jauh di atas rata-rata global yang berada di angka 54 persen. Sementara survei Salesforce terhadap para pemimpin bisnis di Indonesia menemukan 97 persen responden mengakui AI meningkatkan pendapatan usaha mereka—angka tertinggi dari 26 negara yang disurvei. 

Ironisnya, Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat lebih dari 90 persen UMKM Indonesia belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi ini.

Celah itulah yang dibidik. Co-Founder Proxsis & Co Roni Sulistyo Sutrisno menilai pemanfaatan AI akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing perusahaan pada masa mendatang. Dalam paparannya bertajuk Building the AI-Preneurship Ecosystem, kata Roni, perkembangan teknologi Large Language Model (LLM) berlangsung sangat cepat. Karena itu, perusahaan yang mampu mengadopsi AI lebih awal berpotensi memiliki keunggulan kompetitif.

“Semakin cepat perusahaan mengadopsi AI, semakin besar peluang menjadi pemenang. Namun yang lebih penting adalah bagaimana AI selaras dengan tujuan dan dampak bisnis perusahaan,” kata Roni dalam materi presentasinya.

Dalam forum itu, Founder BARDI Ryan Maurice Tallulah turut membagikan perspektif pengembangan bisnis di tengah percepatan teknologi global. Kata Ryan, kondisi saat ini justru membuka peluang bagi perusahaan yang selama ini menjalankan bisnis dengan mematuhi regulasi. Pengetatan pengawasan terhadap perdagangan digital dan impor membuat persaingan menjadi lebih sehat karena seluruh pelaku usaha dituntut memenuhi ketentuan yang sama.

“Saat ini adalah momentum yang baik bagi perusahaan yang selama ini comply. Dulu mungkin hanya sedikit yang memenuhi seluruh aturan, sekarang semua pelaku harus mengikuti regulasi yang sama sehingga persaingan menjadi lebih adil,” ujarnya.

Meski begitu, Ryan mengingatkan pelaku usaha tidak boleh cepat berpuas diri. Momentum saat ini, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan investasi dan memperkuat pangsa pasar domestik. Ryan menilai pasar Indonesia masih menawarkan prospek pertumbuhan yang besar. Hal itu tercermin dari tingginya minat investor asing membangun fasilitas produksi di Tanah Air.

“Kalau banyak perusahaan luar datang ke Indonesia, artinya pasar domestik kita memang masih sangat menarik. Karena itu fokus kami bukan ekspor, tetapi memperkuat pasar Indonesia,” katanya.

Di balik seluruh strategi dan teknologi itu, ada satu filosofi yang mengikat ekosistem ini. Komisaris Holding PT Proxsis Solusi Bisnis Yumei Sulistyo menegaskan pentingnya nilai Grow Others to Grow Together (GOGT) kewajiban setiap wirausahawan untuk saling membimbing dan melahirkan pemimpin baru. Melalui sistem ini, perusahaan meyakini keberhasilan tidak hanya bersumber pada angka pendapatan. 

“Indikator kesuksesan sejati diukur dari lahirnya kolaborasi lintas sektor serta dampak positif jangka panjang bagi industri nasional,” kata Yumei.

Di tengah tiga pukulan yang belum usai, taruhan sudah dipasang. Kini tinggal waktu yang membuktikan.

 

Ask Proxsis ?