Inilah 6 Gambaran Kunci Perubahan FMEA AIAG-VDA tahun 2018

By: Edward Librianus, Technical Director IPQI

(Are You Ready For This….?)

Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang saat ini digunakan oleh industri automotive di dunia dan juga yang dipersyaratkan oleh ISO/TS 16949 atau IATF 16949 banyak yang mengacu pada FMEA Manual yang dikeluarkan oleh AIAG (4th Edition – Latest Version). Namun sebentar lagi, petunjuk penerapan salah satu core tools ini akan mengalami revisi selanjutnya yang merupakan penggabungan penerapan FMEA ala VDA (standard industri automotive di Jerman) dan FMEA yang biasa digunakan dan dikeluarkan oleh AIAG (Automotive Industry Action Group).

Status per saat ini, AIAG VDA FMEA sudah memasuki tahap draft, telah diterbitkan dan terbuka untuk umum untuk memberikan masukan dan komentar terkait AIAG VDA FMEA yang masih berbentuk draft ini. Setiap masukan dan komentar akan dijadikan bahan review oleh committee untuk menyempurnakan konsep penerapan FMEA versi terbaru ini, yang rencananya akan diterbitkan pada bulan Maret 2018.

Terkait FMEA versi terbaru ini (AIAG VDA FMEA) terdapat beberapa perubahan (saya lebih suka mengunakan kata “Penegasan” atau “Penyempurnaan”) yang mesti dipahami oleh setiap orang yang terlibat dalam penyusunan, penerapan dan analisa kinerja proses dengan menggunakan alat analisa/core tools FMEA ini. Penyempurnaan itu antara lain:

  1. Scope Investigation

Penyusunan FMEA dimulai dengan memahami ruang lingkup Analisa yang akan dilakukan dalam FMEA ini. Ruang lingkup/Scope tersebut dapat berupa Component, System, Subsystem atau Assembly.

  1. Structure Analysis

Memahami struktur produk yang kita analisa. Memahami produk kita merupakan bagian dari system apa, lalu dipasangkan atau berhubungan dengan system apa yang ada pada unit kendaraan. Kita juga perlu memahami bagaimana produk kita dipasang aatau dirakit pada unit kendaraan, dengan demikian kita dapat memahami potensi kegagalan dan akibatnya pada system lain. Contoh struktur produk antara lain: sistem pengereman (Braking system), subsystem Disc Brake, Componen Disc Pad. Atau Electrical System, sub system Wiring harness, Componen airbag harness.

  1. Function Analysis

Penyusun FMEA harus memahami dan mampu menganalisa fungsi dari komponen yang dibuatkan FMEA-nya. Failure yang dianalisa harus meliputi kegagalan fungsi pada pemakaian normal, pemakaian yang tidak semestinya, kondisi ekstrim dan kegagalan dalam penyimpanan komponen tersebut.

  1. Failure Analysis

Kegagalan yang dianalisa harus meliputi segala potensial failue yang mungkin terjadi pada komponen, system maupun subsystem. Analisa juga harus meliputi jenis kegagalan, efek dari kegagalan, penyebab kegagalan dan penilaian terhadap severity dari failure tersebut

  1. Risk Analysis

Analisa risiko yang diminta antara lain harus mencakup identifikasi metode yang digunakan untuk current process control, baik prevention maupun detection. Pemberian penilaian terhadap Occurrence dan Detection juga tetap merupakan persyaratan yang harus dilakukan namun harus disertai dengan penilaian action priority. Action priority ini untuk saat ini dinilai hampir sama dengan menetapkan nilai RPN (Risk Priority Number) pada FMEA yang lama.

  1. Optimization

Dari hasil penilaian yang didapat dari Action Priority, hal yang harus dilakukan kemudian adalah menetapkan langkah atau tindakan optimization. Di FMEA yang lama, optimization ini adalah recommended action yang kemudian harus dihitung kembali SOD-nya setelah optimization dilakukan.

Penegasan-penegasan di atas membuat penyusunan FMEA yang baru ini (AIAG VDA FMEA) menjadi sangat detail dan mengerucut dan spesifik terhadap identifikasi kegagalan yang terjadi. Sehingga menuntut bagi personel yang bertanggungjawab untuk menyusun dan menerapkan FMEA dalam operasional prosesnya harus lebih mendalami segala potensi kegagalan yang mungkin terjadi pada komponen yang dianalisa. Dengan demikian FMEA yang baru ini diharapkan dapat benar-benar menjadi pintu masuk awal untuk mengeliminasi kegagalan-kegagalan yang timbul pada proses produksi. Kompetensi personel yang bertanggungjawab dalam menyusun dan menerapkan FMEA ini harus cukup memadai dan mumpuni.